Finding Love

À la Une

I should get used to meeting people under fairy-tale like circumstances. It seems to always be the case for me.

Of all the topics one could choose to strike a conversation with another, it all started with him talking to me about Glacier Point. And then it led to talking about Yosemite. And then about Yellowstone he went to.

It was so effortless talking to him and better still meeting directly in person. We met in the town we both started in and talked about road trips and driving abroad, about skiing in Mammoth Lakes for him and The Pyrénées for me, about the postgraduate studies of his dad and mine, and about our respective work in the oil and gas world we both are in…

And I thought that maybe… just maybe… everything finally made sense.

What kind of first-time-visitor in their right mind deliberately went to Kyūshu of all places in Japan?

I also went to… I forget, what’s the biggest city in Kyūshu?

You went to Fukuoka? I went there, too! Did you try Hakata ramen? So yummy!

Or why on earth should I take a nap in McD…

Lire la suite « Finding Love »

Publicités

To forget

It’s so annoying that the time you need to forget someone, is frequently multiple times longer than the actual duration of your relationship.

Tralfamadorian Way (2)

I am a Tralfamadorian, seeing all time as you might see a stretch of the Rocky Mountains. All time is all time. It does not change. It does not lend itself to warnings or explanations. It simply is. Take it moment by moment, and you will find that we are all, as I’ve said before, bugs in amber. – Slaughterhouse Five, Kurt Vonnegut

All Trails

Signed up in AllTrails to contribute to trail reviews. I have been asked numerous times by people going up when I was going down : How far left until the summit? As a person with a small build and short legs, I could give insight on how long would the trail be completed as a benchmark 😂.

Never thought I would be able to contribute in a site linked to hiking and trails. I was always so pathetic when it came to physical activities.

Can’t wait to write about the trails!

Canada road trip part 1

So this will be the first part of a multi-post story. I know, I know… I still have to continue first writing about New Zealand 😂 and about USA – West Coast (my hike to Glacier Point which started it all).

I’m writing this in the middle of a road trip in Canada. The car I booked should have been a Hyundai Sonata or the like. Instead, the car given by the rental guy turned out to be a 4WD Grand Cherokee which was definitely an overkill for a tiny girl like me 😂. I checked my booking repeatedly and made sure I didn’t select the wrong type of car. I chose ‘standard’ and apparently this was standard in Canada 🧐.

Driving this car in Canada couldn’t be more outside of my comfort zone:

My usual drive : manual transmission, city car type, drive on the left.

Canada trip : automatic transmission, giant car 😂, drive on the right.

Accustomed to manual transmission, switching to automatic transmission was a breeze. What took more effort was adapting with the big dimension of the car and … driving on the right.

Enough for the heads-up. See you on the next post.

Tralfamadorian Way

Belum lama ini aku berbicara tentang koleksi dengan seorang kenalan. Ia bercerita kalau ia senang mengkoleksi hotwheels, terutama hotwheels yang modelnya dibuat berdasarkan mobil-mobil Porsche. Ia pun bertanya balik, apa koleksiku dan sudah berapa lama aku mulai mengumpulkannya.

Aku jawab kalau aku koleksi shot glass dari berbagai kota sejak zaman nakal 😬. Sebenarnya, aku sudah berhenti. Berhenti dalam artian meskipun aku pergi ke kota-kota baru, tidak membeli lagi shot glass sebagai kenang-kenangan.

Saat aku melihat kembali koleksiku, sempat timbul penyesalan kenapa dulu tidak beli sewaktu ke kota X Y Z. Kalau ya, sudah tambah beragam shot glass yang kumiliki. Untunglah penyesalanku tidak bertahan lama karena tak lama kemudian aku kembali diingatkan mengapa aku stop membeli barang-barang souvenir.

Belum lama ini aku bermimpi tentang melakukan perjalanan waktu. Perjalanan waktu ini bukan untuk mengubah masa lalu atau pun melihat masa depan guna mengambil untung seperti di film Back to The Future. Perjalanan waktu ini sesimpel pergi dari suatu momen ke momen lainnya dalam hidup: merasakan kembali hidup dalam momen tersebut, saat momen tersebut terjadi.

Aku tahu dengan pasti pemicu munculnya mimpi tersebut. Bukan dari Avengers Endgame, tapi dari hasil membaca Slaughterhouse Five oleh Kurt Vonnegut. Aku bagaikan menjadi Billy, tokoh utama di dalam buku.

Sudah lama aku sebenarnya ingin menuntaskan buku ini. Akhirnya setelah sempat terpending lama sekali, selesai juga baca buku masterpiece Kurt Vonnegut yang ditulis lima puluh tahun lalu tapi masih relevan sampai sekarang.

Billy, penyintas pengeboman Dresden pada Perang Dunia Kedua, mengaku bahwa ia diculik oleh makhluk dari planet Tralfamadore dan dipajang di sebuah kebun binatang. Tralfamadore adalah alien-alien berbadan hijau. Yang unik dari Tralfamadorian adalah kemampuan mereka untuk melihat empat dimensi dan kemampuan mereka untuk menjelajah waktu.

Sejak diculik, Billy pun juga mampu melakukan penjelajahan waktu. Ia bisa melompat maju mundur dari satu momen yang pernah ia alami ke momen lainnya dalam hidup.

Tentu saja itu semua hanya khayalan Billy, otaknya sudah ada bibit ngga beres akibat trauma perang. Otak yang ngga beres tersebut terpicu sejak ia mengalami kecelakaan pesawat parah pasca perang dan jadi satu-satunya penyintas. Semua imajinasi soal Tralfamadore, termasuk tentang perjalanan waktu, berasal dari salah satu buku fiksi ilmiah picisan karangan seorang penulis buku kacangan yang banyak ia baca selepas perang.

Meskipun semuanya cuma khayalan, cara Tralfamadore melihat waktu mencerminkan apa yang dipikirkan oleh beberapa manusia bumi.

Manusia, menurut alien Tralfamadore, biasanya melihat suatu momen dalam suatu urutan sekuensial. Setelah A ada B, kemudian C, kemudian digantikan oleh momen D. Contohnya adalah aku pernah SD, kemudian diganti oleh masa SMP, lanjut diganti SMA dan sekarang ini yang ‘ada’ hanyalah apa yang sedang terjadi: jadi pekerja korporat.

Manusia, menurut Tralfamadorian, pandai menjelaskan sebab dan akibat suatu kejadian. Contohnya adalah… karena lulus SD, makanya lanjut SMP. Bagi manusia, suatu kejadian  sebab akan ‘tertumpuk’ oleh kejadian lain yang timbul akibat kejadian sebab.

Lain dengan cara pandang Tralfamadore.

Tralfamadore melihat waktu seperti melihat suatu rangkaian pegunungan yang terentang, bukan sesuatu yang sekuensial.

I am a Tralfamadorian, seeing all time as you might see a stretch of the Rocky Mountains. All time is all time. It does not change.

Menurut sudut pandang manusia bumi, aku yang dulu siswi SD sudah berubah jadi pekerja korporat. Menurut alien Tralfamador, aku sebagai siswi SD, SMP, dan termasuk sebagai pekerja korporat saat ini selalu ada. Masa-masa tersebut tidak pernah saling menggantikan. Momen dari awal aku mulai bersekolah sampai sekarang kekal, dan terentang seperti pegunungan. Dengan teropong, aku bisa kembali ke bagian manapun dari rangkaian tersebut.

Viktor E. Frankl dalam bukunya Man’s Search for Meaning yang baru-baru ini kuselesaikan menggemakan cara pandang yang serupa dengan makhluk Tralfamadore.

Lire la suite « Tralfamadorian Way »